Minimalisir Kecelakaan Laut, Basarnas Minta Syarat Laik Operasi Kapal dengan EPIRB


Lampung Selatan - Untuk memberikan informasi kepada para operator tentang sistem deteksi dini milik Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS), serta menjalin kerja sama yang baik dalam mengantisipasi adanya kecelakaan dalam meminimalisasi korban. Basarnas melakukan sosialisasi sistem deteksi dini Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan di Hotel Syariah Raden Intan, Jumat (3/5).

Dalam sosialisasi tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung menekankan kepada operator kapal untuk meregistrasi ulang Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) yang terpasang di setiap kapal. EPIRB yang merupakan perangkat elektronik pemancar sinyal mara bahaya yang terpasang di setiap kapal untuk diaktifkan pada saat situasi mengancam jiwa agar petugas penyelamat segera menemukan lokasi dan memberikan pertolongan.

Kasubdit Dukungan Komunikasi dan Sistem Deteksi Dini Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan M. Hernanto mengatakan, EPIRB sudah tersedia di setiap kapal-kapal besar di Indonesia, namun banyak yang belum teregistrasi oleh Basarnas. Biasanya EPIRB yang di kapal-kapal itu masih registrasi luar negeri. Jadi ketika terjadi musibah dan alat tersebut memancarkan sinyal, ke luar negeri bukan ke kita. Hernanto menjelaskan, registrasi EPIRB cukup mudah, gratis dan tidak betele-tele. Yang penting jelas kita ketahui nomor id EPIRB itu untuk didata lalu kita masukkan ke registrasi kita.

Mengenai sistem kerja EPIRB, ketika terjadi suatu musibah pada kapal. Maka alat tersebut akan memancarkan sinyal yang ditangkap oleh satelit. Kemudian satelit akan memberikan sinyal kepada Basarnas Pusat bahwa ada situasi darurat. Tidak lebih dari 30 detik sudah terhubung ke Baarnas Pusat, kalau EPIRB yang otomatis bila terkena gentakan langsung mengirimkan sinyal. Diharapkan, melalui sosialisasi ini tidak hanya kapal besar saja yang menggunakan EPIRB, tetapi kapal nelayan juga bisa menggunakan PLB (Personal Locator Beacon) atau pemancar sinyal mara bahaya untuk perorangan. Dari sini kita sudah investasi untuk keselamatan. Supaya jika terjadi musibah dan EPIRB itu menyala, kita bisa cepat untuk melaksanakan pertolongan.

Sementara, Kepala Kantor Pecarian dan Pertolongan Lampung Jumaril mengungkapkan, pada tahun ini Basarnas Lampung dipercaya sebagai penyelenggara sosialisasi Sistem Deteksi Dini Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan. Ini tentunya sangat bermanfaat untuk operator pelayaran, karena dari pengamatan Kami mereka bukan tidak mau meregistrasi, tetapi mungkin informasi ke mereka bahwa apabila mengoperasikan kapal dan sudah memiliki EPIRB itu harus diregistrasi ulang kembali. Seperti contohnya, lanjut Jumaril, beli kapal bekas dari luar negeri. Kemudian masuk ke Indonesia dan berganti menjadi bendera Indonesia. Itu pasti sudah memiliki EPIRB, karena syarat kapal untuk berlayar itu memiliki EPIRB. Akan tetapi mereka biasanya tidak meregistrasi ulang EPIRB itu, sehingga id registrasi yang terdata itu masih id luar negeri.

Dari sosialisasi ini, dirinya mengharapkan kepada operator kapal bisa meregistrasikan ulang atau mengecek kembali apakah EPIRB yang digunakan sudah diregistrasi atau belum. Hal ini karena sangat membantu dalam melakukan operasi SAR apabila terjadi suatu musibah. Untuk meningkatkan jumlah registrasi EPIRB 406 MHz, perlu dilakukan upaya-upaya melaksanakan sosialisasi kepada stakeholder di bidang transportasi laut. Serta adanya ketentuan yang mensyaratkan registrasi EPIRB 406 MHz sebagai salah satu Kelaikan Operasi.(hms)



Kategori Berita Kansar , Agenda Pusat , General Berita .
Pengunggah : lampungadmin
5 May 10:25 WIB